Penyebaran Covid-19 di Ruangan Tertutup Kian Beresiko

Covid-19 ditularkan melalui cipratan atau droplet dari batuk atau bersin. Itulah alasan mengapa pejabat WHO menganggap cuci tangan adalah langkah pencegahan sangat penting melawan Covid-19 diulas dari detik.com

Untuk kasus ini, disebutkan bahwa transmisi aerosol jarak pendek, khususnya di ruangan tertutup tertentu, seperti ruang yang penuh sesak dan tidak bervintalasi selama periode waktu yang lama dengan orang yang terinfeksi tidak dapat dikesampingkan.

Baca juga : Viral Istri Sedang Hamil Gerebek Suami Bersama Pelakor

Perlu diperhatikan adalah virus dapat bertahan di udara selama berjam-jam di dalam ruangan tertutup. Risiko menginfeksi orang lain pun tak dapat dihindari. Bahkan, dapat menggambarkan apa yang terjadi pada peristiwa super-spreader.

Mengingat, kata dia, ada bukti di lapangan yang menunjukkan potensi penyebaran airborne. Kendati begitu ia menekankan masih perlu banyak penelitian terkait transmisi Covid-19 tersebut.

Penularan lewat udara terjadi ketika kita menghirup virus atau bakteri yang dibawa oleh partikel yang melayang di udara selama berjam-jam.

Droplet yang jauh lebih kecil ini bisa menyebar di area yang lebih luas. TBC, flu, dan pneumonia adalah contoh penyakit yang ditularkan melalui

Diulas dari CNN ruangan ber-AC menjadi salah satu yang berpotensi memiliki risiko penularan tinggi. Ini karena aliran angin yang kencang bisa memperkecil partikel virus dari yang semula droplet, sehingga membuat virus beterbangan dan bertahan di udara.

penyebaran covid-19 di ruangan tertutup kian berisiko,

Ahli epidemiologi dan biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono mengungkapkan, kondisi akan lebih parah ketika ruang tertutup ber-AC itu memiliki sirkulasi udara yang buruk.

“Ruangan bersirkulasi AC itu bisa meningkatkan risiko terkena Covid-19 atau penyakit pernapasan lain. Kalau mau pakai AC, sirkulasinya harus lancar dan kalau bisa pakai filter,” kata Pandu Riono kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Pandu menambahkan, sirkulasi udara menjadi kunci utama. Yang penting untuk membuat ruangan aman dari virus, kata dia adalah memastikan udara segar masuk udara.

WHO mengakui ada bukti yang menunjukkan bahwa ini virus corona bisa menular di ruang tertutup dan ramai.

 

Mengapa virus corona bisa menular di ruangan tertutup?

Penularan COVID-19 di ruangan tertutup Karena selain dari cairan liur atau droplet, sebanyak 239 ilmuwan meyakini penyebaran virus corona memungkinkan terjadi melalui udara atau airborne. Pimpinan teknis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pencegahan dan pengendalian infeksi, Benedetta Alleganzi menyatakan terbuka terhadap temuan tersebut.

Mengingat, kata dia, ada bukti di lapangan yang menunjukkan potensi penyebaran airborne. Kendati begitu ia menekankan masih perlu banyak penelitian terkait transmisi Covid-19 tersebut.

“Jadi, ini adalah bidang penelitian yang masih berkembang dan temuan yang ada, ada beberapa bukti yang muncul tapi itu tidak definitif,” tutur Alleganzi

Penyebaran COVID-19 di ruangan tertutup, pernyataan ahli epidemiologi dan biomolekuler itu mengacu pada penelitian yang dilakukan di restoran, rumah sakit dan transportasi publik. Dalam ruangan tertutup dengan aliran udara yang kencang, bisa mengakibatkan droplet menjadi partikel yang lebih kecil dan dapat beterbangan.

“Artinya bisa lebih jauh dari yang selama ini kita anggap. Misalnya selama ini hanya dua meter, tapi kalau ada faktor lain bisa terbang lebih jauh, bisa lima meter atau enam meter,” terang Amin Soebandrio.

“Kemudian di ruangan juga bisa demikian, misalnya terdapat aliran udara yang cukup kencang di ruangan tertutup, kemudian ada udara dari AC menyembur cukup kuat, itu bisa menyebabkan yang tadinya droplet menjadi beterbangan,” tambah dia lagi.

Karena itu konsentrasi virus di ruang tertutup pun boleh jadi lebih banyak. Itu sebab, perkembangan virus corona yang menyebar lewat udara atau airborne memungkinkan risiko penularan di ruang tertutup akan lebih tinggi.