Muncul Virus Flu Babi Di China Gejala Awal Demam

Flu babi adalah kasus – kasus influenza yang disebabkan oleh virus orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi.

Gejala virus flu babi :

  • Demam,
  • Batuk,
  • Pilek,
  • Sakit pada kerongkongan,
  • Panas dingin,
  • Sesak napas,
  • Diare,
  • Sakit Kepala,
  • Muntah – muntah,
  • Lemah lesu dan

Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang – orang yagn bersentuhan dengan babi. Meskipun ditemukan juga kasus – kasus penularan dari manusia ke manusia.

Bagi ilmuwan, penemuan tersebut bagus karena ditemukan awal. Sehingga dengan segera bisa membuat para pakar untuk membuat tes khusus untuk mengetahui lebih banyak mengenai virus tersebut.

Namun yang perlu juga dimengerti jika sejauh ini tidak ada bukti adanya penularan antar manusia dari jenis virus baru tersebut.

Di saat virus tersebut ditemukan di tubuh para peternak babi di  China lewat tes antibodi yang dilakukan sebelumnya, belum ada bukti jika virus ini mematikan. Seperti yang diulas dari liputan6.com

China sudah memiliki sistem pemantauan flu yang bagus di seluruh provinsinya.

Baca juga : Jelang Idul Adha Penjualan Hewan Qurban Meningkat

Mereka memantau flu babi, burung dan manusia, karena seperti yang ditulis oleh peneliti mereka

“pemantauan sistematis virus flu di babi penting sebagai peringatan dini dan persiapan kemungkinan pandemi berikutnya”.

Dalam pemantauan terhadap flu babi dari tahun 2011 sampai 2018, para peneliti menemukan apa yang mereka sebut

“genotype 4 (G4) dari flu burung Eurasian (EA) H1N1 yang barusan muncul.”

Dalam laporan penelitian, virus itu disebut G4 EA H1N1.

Muncul virus flu babi itu sudah ada sejak tahun 2013 dan menjadi virus flu babi H1N1 yang menjadi masalah besar di China di tahun 2018.

Ratusan babi mati di Ende

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, NTT, Marianus Alexander mengatakan, 469 babi di daerah itu mati akibat diserang flu babi Afrika atau african swine fever (ASF).

Baca juga : Makanan Rendah Kalori Pas Untuk Diet

Marianus menuturkan, kecamatan Maukaro tercatat pada angka tertinggi berdasarkan hasil rekapitulasi petugas pusat kesehatan hewan.

Kemudian disusul kecamatan dalam kota yakni, Kecamatan Ndona, Kecamatan Detusoko, dan beberapa kecamatan lainnya.

“Gejalanya memang sudah menciri ke virus ASF.

Karena ciri-ciri itu seperti demam, tidak mau makan, ada cairan yang keluar dari dubur dan ada beberapa yang keluar dari mulut dan hidungnya,” kata Marianus, kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu malam.

Marianus mengatakan, untuk memastikan penyebab kematian ratusan babi tersebut, pemerintah kini tengah menunggu hasil uji laboratorium sampel yang dikirim.

Selanjutnya, proses pencegahan akan diperketat, agar penyebaran virus tidak meluas.

Marianus mengimbau, seluruh peternak untuk menerapkan sistem bio security atau tata cara sanitasi yang baik.

“Ada dua penyebab yang kami duga seperti colera dan virus ASF. Tetapi, kami masih tunggu hasil laboratoriumnya seperti apa. Kalau sesuai ciri-cirinya memang sudah menjurus ke ASF,” ungkap Marianus.

“Jadi disarankan tidak konsumsi, karena limbah itu akan menjadi penyebar,” kata Marianus.

Baca juga : Tips Cara Alami Menghilangkan Jerawat

Dalam pemeliharaan ternak, tambah dia, harus memperhatikan tiga hal pokok yakni sistem pengelolaan pakan, kesehatan, dan pengelolaan kandang.

Kemenkes pantau potensi penularan flu babi

Muncul Virus Flu Babi Di China Gejala Awal Demam

Muncul virus flu babi, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto mengatakan bahwa dibutuhkan peningkatan pemahaman serta kewaspadaan dari pemerintah dan masyarakat dalam antisipasi masuk virus flu babi G4.

Dikatakannya, pada 2009, WHO menyatakan Influenza A (H1N1) sebagai pandemi. Sebab virus tersebut menyebar ke lebih dari 200 negara di dunia, termasuk Indonesia.

“Namun, virus Influenza A (H1N1) yang menimbulkan pandemi tahun 2009 berbeda dengan virus flu babi baru H1N1 (G4 EA H1N1) yang ditemukan oleh ilmuwan Tiongkok,” katanya dalam keterangannya, pada Senin (13/7).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita mengatakan hal yang sama. Terkait flu babi baru (G4 EA H1N1) hingga kini belum ditemukan di Indonesia.

Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan hasil surveilans dan analisa genetik yang dilakukan Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Veteriner Kementerian Pertanian, yaitu Balai Veteriner Medan dan Balai Besar Veteriner Wates.

“Hasil surveilans kami menunjukkan bahwa virus flu babi yang pernah ditemukan di Indonesia, terbukti berbeda dengan virus flu babi baru (G4 EA H1N1),” katanya.

Dijelaskannya, pihaknya telah melakukan langkah deteksi dini. Pihaknya bersama FAO dan Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) telah mengembangkan influenza virus monitoring (IVM) online untuk memonitor mutasi virus influenza sejak 2014.

“Langkah lain yang dilakukan adalah surveilans berbasis risiko untuk flu babi serta karakterisasi virusnya,” bebernya.

Dikatakannya, untuk meningkatkan kewaspadaan, Kementan juga telah menerbitkan Surat Edaran tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Galur Baru Virus Flu Babi H1N1 (G4 EA H1N1).

Dalam surat edaran ini, pihaknya mengajak seluruh pihak terkait untuk meningkatkan kerja sama, mewaspadai, dan menyiapkan rencana kontingensi kemungkinan masuk dan munculnya G4 EA H1N1 di Indonesia.

“Kita terus lanjutkan dan perkuat kerja sama One Health yang sudah berjalan baik dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan koordinasi dari Kemenko PMK,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Kantor Kesehatan USAID Indonesia Pamela Foster menyebut pandemi COVID-19 harus dijadikn sebagai pengingat kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

Virus tersebut telah dilaporkan oleh pemerintah China dan berada di bawah pengawasan sejak 2011.

Serta sudah ada beberapa publikasi sebelumnya tentang virus itu. Menurutnya, virus G4 dan tipe lain dari flu babi dan flu burung akan terus berevolusi.